Wikipedia

Hasil penelusuran

Kamis, 08 Oktober 2020

pakualaman mirip solo

Berikut info seminar dari puro pakualaman

Kemaren pas ikut seminar pakualaman dijelaskan, memang kebudayaan pakualamann seperti gaya busana, gaya tarian,  gaya wayang dan gamelan mirip gaya keraton sålå, hal ini terjadi pada zaman PA VII, PA VIII, bahkan hingga penobatan PA IX masih pake busana gaya sålå. 

Hal ini jelas diakibatkan dari pernikahan adipati PA VII dengn gbray retno puwoso Putri ndalem sinuwun Pakubuwono x, sehingga unsur sålå masuk ke pakualaman 

Bahkan dulu banyak yang berkata pakualaman itu ya sålå karena saking miripnya dengan gaya sålå

CMIIW

Selasa, 06 Oktober 2020

cara reset windows 10

Lama sekali lurr, Karena terlalu banyak aplikasi Yang Saya install untuk mencapai resett 25% aja nunggu 45 menit lebih, sabar me nyetel ulang windows lurr

Selasa, 29 September 2020

Bung Karno ala Pak Emha

  1. Bung Karno hanyalah satu penggalan kecil dari sejarah panjang peradaban Nusantara, tapi ia adalah tonggak terbesar eksistensi Indonesia. Bung Karno adalah monumen besar kehormatan dan jiwa agung bangsa Indonesia. Di manakah tonggak itu sekarang tegak teguhnya? Di manakah momen itu sekarang kebesaran dan keanggunannya? Di manakah sekarang jiwa kebangsaan yang pernah menggetarkan dunia? Tidak baikkah andaikan bangsa Indonesia memproyeksikan jiwa kebangsaan Bung Karno itu pada kehidupan nasional hari ini. Ya politiknya, ya ekonominya, ya kebudayaannya, ya martabat kebangsaannya.
  2. Bangsa Indonesia hari ini bercerminlah dan tatap wajahmu: Siapa Pemimpin Bangsamu sebenarnya? Bung Karno, Pak Harto, Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY atau Jokowi? Siapakah Bapak Pembangunan Harga Diri Bangsa Indonesia? Presiden dengan jiwa dan karakter bagaimanakah yang kau akan pilih di tahun 2024 nanti? Siapa sebenarnya yang kau percaya, yang kau cintai, kau anut dan laksanakan prinsip-prinsip kejuangannya?
  3. Para pemimpin lain mungkin kau cintai dan kau bela, atau kau benci dan kau maki. Demi kemerdekaan warga dan hak asasi, aku tidak mempertanyakan atau mempersoalkan siapa yang kau benci dan siapa yang kau cintai, kenapa kau benci atau kau cintai, alasannya mendasar atau tidak, tepat atau tidak. Kalau mau benci, bencilah. Kalau memang cinta, cintailah. Yang menjadi pertanyaan adalah kalau kau percaya dan cinta, apakah kau melaksanakan pesan nilai-nilainya dan jiwa kejuangannya? Ataukah kau sekarang ini bersikap acuh tak acuh saja, bahkan mungkin mengkhianatinya?
  4. Bung Karno menyatakan sangat tegas pada pidato peringatan Kemerdekaan 17 Agustus 1963: Kita bangsa besar, kita bukan “bangsa tempe”, kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu! Lebih baik makan gaplek tapi merdeka, daripada makan bestik tetapi budak. Lantas apakah demikian juga garis kejuangan dan prinsip nilai yang diterapkan oleh Presiden-Presiden sesudahnya? Apakah prinsip harga diri kebangsaan yang ditegakkan oleh Bung Karno itu menjadi pertimbangan utama ketika memilih para pengganti Bung Karno?
  5. Sampai sekarang apa yang kita lakukan sebagai bangsa dengan Presiden dan Pemerintahnya? Apakah bangsa Indonesia sekarang ini tuan rumah di negerinya sendiri ataukah pengemis di lapangan luas pasar bebas globalisasi? Apakah bangsa Indonesia berani makan gaplek demi kedaulatan dan martabat dirinya, ataukah sebagian kecil makan bestik di atas pundak rakyat kebanyakan yang makan gaplek?
  6. Bung Karno membantah ilmuwan Lord Russel dengan menyatakan bahwa “dunia ini tidaklah seluruhnya terbagi dalam dua fihak seperti dikiranya”. Yakni kapitalisme dan sosialisme, yang dua tonggaknya adalah Manifesto Komunisme dan Declaration of Independence. Maka Bung Karno menawarkan Panca Sila kepada dunia, dalam pidatonya di depan PBB 1960: “Itulah intisari dari peradaban Indonesia selama dua ribu tahun”.
  7. Sesudah itu, sampai hari ini, apa yang ditawarkan oleh Bangsa Indonesia kepada Dunia? Supremasi ekonomi? Khasanah kebudayaan? Keteguhan martabat kebangsaan? Keunggulan olahraga? Fenomenologi dan cakrawala masa depan? Kepemimpinan di Kawasan Negara-negara dan bangsa-bangsa di sekitarnya? Indonesia ini Macan Asia ataukah Tikus Asia?
  8. Bagaimana bangsa Indonesia memaknai sejarahnya bahwa mereka pernah memiliki, mengagumi dan mencintai orang besar seperti Bung Karno? Seberapa besar kesungguh-sungguhan mereka untuk benar-benar mendengarkan dan belajar kepada beliau? Apakah bangsa Indonesia punya kesetiaan untuk menjalankan aspirasi-aspirasi kebangsaan beliau? Juga punya keteguhan dan disiplin untuk mempertahankan pemikiran beliau dalam menjalankan Pemerintahan dan pembangunannya?
  9. Apa jawaban bangsa Indonesia kalau ada yang menyimpulkan bahwa sepeninggal Bung Karno, terjadi pengkhianatan-pengkhianatan besar dan serius, baik secara personal, kemasyarakatan, keormasan dan keparpolan atau kepemerintahan? Bahwa kita bangsa yang lalai dan meremehkan hakekat jasa pahlawan-pahlawannya? Bangsa yang cuek dan acuh tak acuh kepada sejarahnya sendiri? Bangsa yang punya Pancasila tetapi tidak mempelajari dan menghikmahinya? Bangsa yang punya Ketuhanan Yang Maha Esa tapi tidak meletakkan-Nya sebagai sumber utama pertimbangan-pertimbangan dan langkah sejarahnya? Bangsa yang punya Nabi tapi tidak belajar kepadanya dan tidak menggali apapun dari peran sejarahnya?
  10. Itu pandangan satu sisi mata uang tentang Bung Karno. Kelak bangsa Indonesia akan dewasa berpikirnya, akan seimbang mentalitasnya, akan teguh rasionalitasnya, serta akan kukuh persatuan dan kesatuannya. Sehingga akan siap membuka sisi mata uang lainnya.

Yogya 30 September 2020
Mbah Nun, Maiyah.

Senin, 28 September 2020

pleret mantan ibukota

Setelah kraton Plered (Palérèd begitu konon ejaan aslinya) diserang Trunajaya pada 1677 ternyata meskipun fungsinya sebagai ibukota telah berpindah ke Kartasura, tetapi beberapa bangunan dan bentengnya masih tersisa.

Setidaknya 150 tahun kemudian pada 1825 -bahkan sesudah Yogyakarta berdiri- lokasi ini kembali menjadi ajang perang. Kali ini antara Pangeran Diponegoro vs Belanda.
Tidak sekali, bahkan dua kali ! 

PERANG PLERED

Ceritanya begini, 
Setelah menyatakan perang, meninggalkan Ndalem Tegalrejo, Diponegoro menduduki Plered pada tahun 1825 dan menyimpan senjata serta ternaknya di sana. 

Dia menggunakannya sebagai pangkalan untuk menyerang konvoi yang memasok Imogiri di dekatnya yang dipegang oleh Belanda. 

Perang pertama - April 1826
Pada bulan April 1826, Belanda di bawah Jenderal Van Geen menyerang Plered.  Diponegoro tidak ikut bertempur dan mundur ke barat. Van Geen memasuki Plered dan mengambil senjata dan ternak yang disimpan di sana sebagai barang jarahan. Karena tidak memiliki kekuatan untuk menjaga benteng tersebut, ia kemudian mundur ke Yogyakarta.  

Tulisan Kapten Errembault de Dudzeele et d’Orroir tentang kondisi bekas kraton pada 1826 : "Plerette (Plérèd) adalah bekas kraton, tetapi sudah tak dihuni dalam waktu yang lama. Kawasan itu dikelilingi oleh dinding setinggi sekitar tujuh meter, berbentuk persegi dengan sisi panjangnya 1,5 kilometer dan lebar sekitar separuhnya".

Selanjutnya, karena Belanda telah meninggalkan Plered, maka Diponegoro merebut kembali dan membentenginya dengan persenjataan serta jebakan perancah. 

Bersambung bagian ke 2
https://www.facebook.com/1782103122018066/posts/2809868282574873/

Kamis, 24 September 2020

Gaya memakai keris di jawa

Prajurit Mataram dengan 4 senjata :
Tombak, Pedang dan 2 keris. 

Ada yang mengatakan orang Jawa memakai keris di belakang.
Sebenarnya tidak, karena ada 7 jenis letak pemakaian keris :

1. Di belakang, sisi kanan 
Jika ujung warangka panjang di sisi kanan disebut : 
KLABANG PINIPIT (Yogya)
NGOGLENG (Sala)

2. Di belakang, sisi kanan 
Jika ujung warangka panjang di sisi kiri disebut : 
NGÈWAL (Yogya)
KÈWALAN/MOGLÉNG/NGÈWAL (Sala)

3. Di belakang, sisi kiri, disebut :
MUNYUK NGILO (Yogya)
KURÈBAN (Sala)

4. Di belakang, tengah, disebut :
SATRIYÅ KÈPLAYU/LÈLÈ SINUNDHUKAN

5. DEPAN TENGAH, disebut :
NYOTHÉ (Yogya)

6. SAMPING KIRI, disebut :
NGANGGAR (Yogya)
KEMPITAN KIWÅ (Sala)

7. SAMPING KANAN, disebut :
NYOTHE (Yogya)
KEMPITAN TÈNGÈN (Sala)

8. SAMPING DISANGKUTKAN SABUK, disebut :
NGANGGAR (Sala)

Makna pemakaian Gaya Yogyakarta, 
klik disini 

https://www.facebook.com/1782103122018066/posts/2789891507905884/

Sumber : 
Facebook Lintrik (gaya Surakarta)
Tjokrosuharto com (gaya Yogyakarta)

Gambar : 
Raffles, History of Java

Prakerja

 Ikut pelatihan prakerja ternyata menguji daya sabar kita, sabar mengisi data, full mengikuti pelatihan dan jangan lupa pakai OVO hehehe pengalaman pribadi pakai bank orange nggak bisa lalu pakai wallet ungu


Sabtu, 02 Mei 2020

Menasehati diri

Menasehati diri

Menasihati Diri
Berbicara tentang nasihat, aku melihat diriku tak pantas untuk memberikannya. Sebab, nasihat seperti zakat. Nisab-nya adalah mengambil nasihat atau pelajaran un­tuk diri sendiri. Siapa yang tak sampai pada nisab, bagaimana ia akan mengeluarkan zakat? Orang yang tak memiliki cahaya tak mungkin dijadikan alat penerang oleh yang lain. Bagaimana bayangan akan lurus bila kayunya bengkok? Allah Swt. mewahyukan kepada Isa bin Maryam, “Nasihatilah dirimu! Jika engkau telah mengambil nasihat, maka nasihatilah orang-orang. Jika tidak, malulah kepada-Ku.” Nabi kita saw bersabda, “Aku tinggal­kan untuk kalian dua pemberi nasihat: yang berbicara dan yang diam.”
Pemberi nasihat yang berbicara adalah Alquran, se­dangkan yang diam adalah kematian. Keduanya sudah cukup bagi mereka yang mau mengambil nasihat. Siapa yang tak mau mengambil nasihat dan keduanya, bagai­mana ia akan menasihati orang lain? Aku telah menasi­hati diriku dengan keduanya. Lalu aku pun membenar­kan dan menerimanya dengan ucapan dan akal, tapi tidak dalam kenyataan dan perbuatan. Aku berkata pa­da diri ini, “Apakah engkau percaya bahwa Alquran merupakan pemberi nasihat yang berbicara dan juru na­sihat yang benar, serta merupakan kalam Allah yang di­turunkan tanpa ada kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya?” Ia menjawab, “Benar.” Allah Swt. berfirman, “Siapa yang menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepadanya balasan amal perbuatan mereka di dunia dan mereka di dunia ini tak akan dirugikan. Mereka itulah yang tidak akan memperoleh apa-­apa di akhirat kecuali neraka. Dan gugurlah semua amal per­buatan mereka serta batallah apa yang mereka kerjakan” (Q.S. Hud: 15-16).
Allah Swt. menjanjikan neraka bagimu karena eng­kau menginginkan dunia. Segala sesuatu yang tak me­nyertaimu setelah mati, adalah termasuk dunia. Apakah engkau telah membersihkan diri dan keinginan dan cin­ta pada dunia? Seandainya ada seorang dokter Nasrani yang memastikan bahwa engkau akan mati atau sakit jika memenuhi nafsu syahwat yang paling menggiur­kan, niscaya engkau akan takut dan menghindarinya. Apakah dokter Nasrani itu lebih engkau percayai ke­timbang Allah Swt.? Jika itu terjadi, betapa kufurnya engkau! Atau apakah menurutmu penyakit itu lebih hebat dibandingkan neraka? Jika demikian, betapa bodohnya engkau ini! Engkau membenarkan tapi tak mau mengam­bil pelajaran. Bahkan engkau terus saja condong kepada dunia. Lalu aku datangi diriku dan kuberikan padanya juru nasihat yang diam (kematian). Kukatakan, “Pemberi nasihat yang berbicara (Alquran) telah memberi­tahukan tentang pemberi nasihat yang diam (kematian), yakni ketika Allah berfirman, ‘Sesungguhnya kematian yang kalian hindari akan menjumpai kalian. Kemudian kalian akan dikembalikan kepada alam gaib. Lalu Dia akan memberi­tahukan kepada kalian tentang apa yang telah kalian kerjakan’ (Q.S. al-Jumuah: 8).” Kukatakan padanya, “Engkau telah condong pada dunia. Tidakkah engkau percaya bahwa kematian pasti akan mendatangimu? Kematian tersebut akan memutuskan semua yang kau punyai dan akan merampas semua yang kau senangi. Setiap sesuatu yang akan datang adalah sangat dekat, sedangkan yang jauh adalah yang tidak pernah datang. Allah Swt. berfirman, ‘Bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kenikmatan pada mereka selama beberapa tahun? Kemudian datang pada me­reka siksa yang telah dijanjikan untuk mereka? Tidak berguna bagi mereka apa yang telah mereka nikmati itu.’ (Q.S. asy­Syuara: 205-206).”
Jiwa yang merdeka dan bijaksana akan keluar dari dunia sebelum ia dikeluarkan darinya. Sementara jiwa yang lawwamah (sering mencela) akan terus memegang dunia sampai ia keluar dari dunia dalam keadaan rugi, menyesal, dan sedih. Lantas ia berkata, “Engkau benar.” Itu hanya ucapan belaka tapi tidak diwujudkan. Karena, ia tak mau berusaha sama sekali dalam membekali diri untuk akhirat sebagaimana ia merancang dunianya. Ia juga tak mau berusaha mencari rida Allah Swt. sebagai­mana ia mencari rida dunia. Bahkan, tidak sebagaimana ia mencari rida manusia. Ia tak pernah malu kepada Allah sebagaimana ia malu kepada seorang manusia. Ia tak mengumpulkan persiapan untuk negeri akhirat se­bagaimana ia menyiapkan segala sesuatu untuk meng­hadapi musim kemarau. Ia begitu gelisah ketika berada di awal musim dingin manakala belum selesai mengum­pulkan perlengkapan yang ia butuhkan untuknya, pa­dahal kematian barangkali akan menjemputnya sebelum musim dingin itu tiba. Kukatakan padanya, “Bukankah engkau bersiap-siap menghadapi musim kemarau sesuai dengan lama waktunya lalu engkau membuat perleng­kapan musim kemarau sesuai dengan kadar ketahanan­mu menghadapi panas?” Ia menjawab: “Benar.” “Kalau begitu”, kataku, “Bermaksiatlah kepada Allah sesuai de­ngan kadar ketahananmu menghadapi neraka dan ber­siap-siaplah untuk akhirat sesuai dengan kadar lamamu tinggal di sana.” Ia menjawab, “Ini merupakan kewa­jiban yang tak mungkin diabaikan kecuali oleh seorang yang dungu.” Ia terus dengan tabiatnya itu. Aku seperti yang disebutkan oleh para ahli hikmat, “Ada segolongan manusia yang separuh dirinya telah mati dan separuhnya lagi tak tercegah.”
Aku termasuk di antara mereka. Ketika aku melihat diriku keras kepala dengan perbuatan yang melampaui batas tanpa mau mengambil manfaat dari nasihat ke­matian dan Alquran, maka yang paling utama harus dilakukan adalah mencari sebabnya disertai pengakuan yang tulus. Hal itu merupakan sesuatu yang menakjubkan. Aku terus-menerus mencari hingga aku menemukan sebabnya. Ternyata aku terlalu tenang. Oleh ka­rena itu berhati-hatilah darinya. Itulah penyakit kronis dan sebab utama yang membuat manusia tertipu dan lupa.Yaitu, keyakinan bahwa maut masih lama. Sean­dainya ada orang jujur yang memberikan kabar pada seseorang di siang hari bahwa ia akan mati pada malam nanti atau ia akan mati seminggu atau sebulan lagi, niscaya ia akan istikamah berada di jalan yang lurus dan pastilah ia meninggalkan segala sesuatu yang ia anggap akan menipunya dan tidak mengarah pada Allah SWT.
Jelaslah bahwa siapa yang memasuki waktu pagi sedang ia berharap bisa mendapati waktu sore, atau sebaliknya siapa yang berada di waktu sore lalu berharap bisa mendapati waktu pagi, maka sebenarnya ia lemah dan menunda-nunda amalnya. Ia hanya bisa berjalan dengan tidak berdaya. Karena itu, aku nasihati orang itu dan diriku juga dengan nasihat yang diberikan Rasullah saw ketika beliau bersabda,”Salatlah seperti salat­nya orang yang akan berpisah (dengan dunia).” Beliau telah diberi kemampuan berbicara dengan ucapan yang singkat, padat, dan tegas. Itulah nasihat yang berguna.
Siapa yang menyadari dalam setiap salatnya bahwa salat yang ia kerjakan merupakan salat terakhir, maka hatinya akan khusyuk dan dengan mudah ia bisa mem­persiapkan diri sesudahnya. Tapi, siapa yang tak bisa melakukan hal itu, ia senantiasa akan lalai, tertipu, dan selalu menunda-nunda hingga kematian tiba. Hingga, pada akhirnya ia menyesal karena waktu telah tiada.
Aku harap ia memohonkan kepada Allah agar aku diberi kedudukan tersebut karena aku ingin meraihnyg tapi tak mampu. Aku juga mewasiatkan padanya agar hanya rida dengannya dan berhati-hati terhadap berbagai tipuan yang ada. Tipuan jiwa hanya bisa diketahui oleh mereka yang cendekia.